Selamat Datang di CariManfaat.com
Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Thursday, January 31, 2013

5 Cara Aisyah Menyelesaikan Masalah


Ummul Mukninin ‘Aisyah tumbuh besar di rumah Rasulullah nan suci. Hal ini sungguh merupakan anugerah yang sangat besar, karena setiap orang yang dididik langsung oleh Rasulullah pada dasarnya akan menjadi guru dan sekolah yang fenomenal. 

Inilah yang benar-benar terjadi pada diri ibunda kita, ‘Aisyah. Nalar dan pemikirannya dipenuhi dengan konsepsi-konsepsi Islam. Tingkah laku dan sikap ‘Aisyah merupakan bentuk praktis dan implementasi dari konsep-konsep Islam. Maka tidak masuk akal jika ‘Aisyah melakukan suatu perbuatan yang menyalahi pemikiran, konsepsi dan tingkah laku yang sudah mendarah daging pada diri dan akalnya. 

Sikap seperti ini bukan hanya ada pada diri ‘Aisyah saja, melainkan adalah corak tingkah laku yang ada pada diri sahabat Rasul secara umum. Di situ ditemukan adanya keharmonisan luar biasa antara pikiran dan tingkah laku, yang jarang sekali bertolak belakang dengan Al Quran. 

‘Aisyah yang suci -putri dari sahabat Nabi yang jujur- ditimpa musibah paling besar yang mungkin menimpa perempuan bermartabat sepertinya. Ia dituduh berbuat zina. Alangkah berat ujian yang ia terima. Tuduhan itu tidak hanya beredar di kalangan terbatas keluarga dan sahabat dekat, tetapi beredar ke masyarakat dan dibumbui dengan sejumlah propaganda yang licik. 

Istri seorang Rasul yang sangat disegani sekaligus dicinta oleh ummat dituduh telah melakukan zina. Zina yang dipandang sebagai aib dan dosa besar bagi setiap perempuan, terlebih jika dilakukan oleh istri Nabi, maka hal tersebut sungguh menjadi suatu masalah dan ujian yang berat bagi ‘Aisyah. Hanya orang dengan kepribadian matang, tangguh dan cerdas seperti ‘Aisyah yang dapat menanggung ujian tersebut dan mampu menemukan solusi sehingga dapat melewati cobaan dengan baik. 

Apa yang dilakukan ‘Aisyah menghadapi persoalan rumit ini? Bagaimana dia menghadapi, melawan, dan mengalahkannya? 

Tentu wanita muslimah di jaman sekarang pun dapat mengambil hikmah, meneladani sikap dan tindakan ‘Aisyah ketika menghadapi masalah dan ujian yang dihadapinya. 

Masalah dan Cara Menghadapinya
 
Sebelum membahas lebih lanjut tentang sikap dan cara-cara ‘Aisyah dalam menyelesaikan masalah, ada baiknya mengulas sedikit mengenai definisi masalah. 

Manusia hidup tentu akan bertemu dengan masalah. Hal tersebut seperti bagian dari skenario yang ditentukan ‎​اَللّهُ baik untuk pembelajaran maupun untuk menunjukkan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya. 

Masalah dapat didefinisikan sebagai perasaan atau kesadaran tentang adanya suatu kesulitan yang harus dilewati untuk mencapai tujuan. Masalah juga dapat diartikan sebagai kondisi disaat kita berbenturan dengan realitas yang tidak diinginkan. 

Tanpa sadar kadang masalah yang datang dapat menyita pikiran kita. Disinilah diperlukan sikap dan pengetahuan agar dapat menghadapi masalah dan menemukan solusi yang tepat dan tentunya tidak semakin menjerumuskan kepada masalah lain. Dan yang lebih utama, bagaimana bersikap dan bertindak menghadapi masalah sesuai dengan petunjuk yang diberikan Allah. 

Terkadang untuk menyelesaikan masalah butuh waktu, namun terkadang masalah dapat selesai dengan cepat. Bagaimanakah ibunda ‘Aisyah menghadapi persoalannya kala itu? 

Persoalan yang dihadapi ‘Aisyah adalah berita bohong. Para kaum munafik menyebarluaskan isu tentang kasus perzinaan ‘Aisyah dengan Shafwan bin Mu’aththal. Ketika pulang dari sebuah peperangan, ‘Aisyah terlambat dari rombongan. Ia pulang diantar Shafwan dan menaiki untanya. Setelah itu isu tentang perzinaan ini pun menyebar luas, laksana api yang dengan cepat membakar rerumputan kering. 

Persoalan ‘Aisyah kala itu ada dua hal, pertama, ‘Aisyah mendapati dirinya sendirian karena sudah ditinggal rombongan pasukan. Kedua, ketika isu ini beredar di luar, ia tidak mengetahui bahkan tidak terlintas di dalam pikirannya sama sekali. Lantas apakah yang dilakukan ‘Aisyah untuk menghadapi dua persoalan tersebut? 

Sadar Bahwa Tengah Menghadapi Masalah
 
Harus diketahui bahwa sebuah persoalan tidak akan berarti jika orang yang tertimpa atau memiliki hubungan dengan persoalan tersebut tidak menyadarinya. Begitu pun dengan ‘Aisyah, ia sadar betul akan adanya masalah yang sedang dihadapi. Ketika kembali dari mencari kalung yang hilang dan mendapati rombongan pasukan sudah pergi meninggalkannya, ‘Aisyah sadar kalau ia sedang dalam masalah. Ini persoalan pertama. 

Sedangkan terhadap persoalan kedua, dimana ia dituduh melakukan zina, ‘Aisyah segera merasa kalau sedang ada masalah ketika diberitahu Ummu Misthah tentang isu yang sedang beredar di masyarakat. Pada awalnya ‘Aisyah tidak merasakan hal itu. Maka ia heran atas celaan Ummu Misthah terhadap anaknya, dan ia pun membelanya karena Misthah termasuk salah satu sahabat yang ikut dalam perang badar. 

Menjaga Emosi dan Tetap Tegar
 
Ibunda kita ‘Aisyah mampu menahan emosinya di saat menghadapi persoalan yang menimpanya. Padahal situasi yang ia alami kala itu sangat mencekam. Tertinggal sendirian oleh rombongan pasukan di medan perang. Dan ia pun tetap dapat mengontrol dirinya ketika mendengar isu yang sesungguhnya dapat membuatnya tertekan. Tentu saja ‘Aisyah kaget dan limbung atas isu-isu yang tersebar luas menyangkut dirinya. Namun meskipun begitu, ‘Aisyah tetap sabar karena mengingat firman Allah, 

“Maka hanya bersabar itulah yang terbaik (buatku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan. (Yusuf [12]:18) 

Ketegaran hati yang dimiliki ‘Aisyah tercermin dengan selalu memohon perlindungan Allah melalui doa, shalat, zikir, berbaik sangka kepada Allah dan umat muslim yang terkait dengan isu tentang dirinya, serta mengharap datangnya kebaikan. Sisi keimanan secara umum juga sangat berpengaruh dalam hal ini, sehingga keimanan harus tetap dijaga pada setiap fase penyelesaian masalah. 

Semua inilah yang dilakukan oleh ‘Aisyah. Meskipun isu-isu itu mampu membuat ‘Aisyah terpukul, tapi ia tetap tidak kehilangan akal sehat. 

Terhadap persoalan pertama, ‘Aisyah menyimpulkan kalau rombongan pasukan memang sudah meninggalkannya, dan ia tertinggal sendirian. Hal ini membuat ‘Aisyah mengkhawatirkan diri sendiri kalau sampai meninggal dunia, mendapat musibah, atau mengalami tindak kekerasan. Sedangkan terhadap persoalan kedua, ‘Aisyah sudah menyimpulkan dan mengetahuinya. Isu yang beredar saat itu adalah ia dituduh berbuat zina. ‘Aisyah sudah memikirkan tuduhan tersebut dan konsekuensi yang mungkin timbul karenanya. 

Memikirkan Solusi
 
‘Aisyah memikirkan solusi yang mungkin berguna untuk menyelesaikan persoalannya. Yang terbersit dalam benak ‘Aisyah waktu itu adalah sejumlah hal berikut: 

1.Menyusul rombongan pasukan. Tapi ia tidak memiliki kendaraan, sedang malam sudah gelap dan ia pun rasanya tidak mungkin berjalan sendirian
2.Tetap berada di tempat semula sambil bersembunyi
3.Pergi ke tempat lain
4.Menunggu di tempat semula dengan harapan rombongan pasukan atau sebagian mereka akan kembali lagi ke tempat itu. Sebab apabila rombongan tahu kalau ia tidak ada, tentu mereka akan segera kembali ke tempat semula untuk mencari.
5.Mencari seseorang yang mungkin tertinggal dari rombongan seperti yang ia alami, atau menunggu seseorang yang mengikuti rombongan pasukan dari jauh. 

Sedangkan terhadap persoalan kedua, yang terbersit pada benak ‘Aisyah adalah; 

1.Membela diri
2.Menyerahkan hal itu kepada Rasul, sementara ia tetap berada di rumahnya. Namun sepertinya ‘Aisyah melihat kalau Rasulullah terpengaruh dengan isu tersebut, di samping isunya sudah menyebar luas di masyarakat
3.Pulang ke rumah bapak ibunya, bersabar dan menyerahkan semuanya kepada Allah
4.Menerapkan solusi paling tepat di antara solusi-solusi yang ada 

Solusi
 
‘Aisyah memilih untuk tetap berada di tempat semula dengan harapan rombongan pasukan atau sebagian dari mereka kembali lagi untuk menjemput. Benar saja, Shafwan datang. Waktu itu, ‘Aisyah menyangka kalau Shafwan memang diutus rombongan untuk menjemputnya. Oleh karena itu, ‘Aisyah langsung menaiki unta Shafwan tanpa berbicara sedikit pun. Dan karena anggapan seperti ini juga, ‘Aisyah tidak pernah terbetik dalam pikirannya bakal ada isu-isu miring tentang dirinya. Sebab ia menyangka bahwa Shafwan memang diutus rombongan untuk mencari dan membawanya menyusul rombongan. 

Sedangkan mengenai masalah tuduhan zina, ‘Aisyah meminta izin kepada Rasulullah untuk pulang ke rumah keluarganya. Sebab persoalan ini butuh kejelasan lebih lanjut selagi belum turun wahyu yang menjelaskannya. Selain itu, menghadapi persoalan semacam ini juga butuh kepala dingin agar bisa berpikir tenang. Kepulangan ‘Aisyah ke rumah orangtuanya mengandung banyak himah dan kecerdikan. Oleh karena itu, Rasul pun segera memenuhi keinginan ‘Aisyah tersebut.[eramuslim]

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan GRATIS via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di CariManfaat.com

No comments

Sunday, January 27, 2013

Maryam Jamilah: Mujahidah Bersenjata Pena





Pernahkah Anda bayangkan sekarang ada seorang anak Indonesia berumur 14 tahun menulis sebuah novel bermutu tentang negara lain—yang dia tak pernah kunjungi—serta tentang agama selain agamanya? Sepertinya tidak ada! 


Banyak anak Indonesia umur 14 kerjaannya hanya gaul, pacaran, tawuran, nonton TV atau mengonsumsi narkoba! Dan banyak yang tidak  tertarik pada agamanya apalagi agama orang lain.

Sementara seorang tokoh Muslimah terkenal, Maryam Jamilah menulis novel bermutu “Di Tepian Jalur Gaza”, pada usia 14 tahun dalam kondisi yang saya sebutkan di atas. Ia belum pernah ke Palestina dan ia masih menganut Yahudi, tapi novelnya mengritik orang Yahudi dan membela orang Islam Palestina.

Sebenarnya siapa Maryam Jamilah ini? Maryam Jamilah dilahirkan di Westchester, New York, pada tahun 1934. Ia dilahirkan dengan nama Margret Marcus.Waktu kecil ia mempunyai nama panggilan yang lucu, Peggy, padahal yang bernama Margaret atau Margret biasanya di Amerika dipanggil Maggy. Gadis yang berasal dari suatu keluarga Yahudi yang mukim di New York ini memang lain sejak awalnya.

Demi memuasi dahaganya akan kebenaran hidup, sejak masa-masa remajanya yang paling dini ia telah sekian kali berpindah dari suatu “pusat kerohanian” ke “pusat kerohanian” lainnya. Dari yang sepenuhnya bersifat keagamaan hingga tak kurang dari yang bersifat agnostik, atau malah atheistik sama sekali.

Juga, berbeda dengan remaja-remaja New York sebayanya, Margret, gadis ini,mengharamkan bagi dirinya segala sesuatu yang disebut sebagai “sumber kenikmatan hidup”, seperti pergaulan bebas, pesta-pesta, mode, minuman keras, merokok dan ajojing. Justru di saat yang sering disebut sebagai “masa-masa yang paling indah” dalam kehidupan seseorang.

Sebagai gantinya, ia benamkan dirinya dalam tumpukan buku-buku yang terhitung “berat” bagi kebanyakan orang, apalagi bagi remaja seumurnya, seperti: agama, filsafat, psikologi dan sebangsanya.

Ketertarikan Margret pada Islam dimulai ketika ia berumur 10 tahun. Pada umur itu ia mengikuti “Sekolah Minggu” yang diadakan oleh seorang Yahudi Reformis.Ia sangat terkagum-kagum dengan hubungan sejarah antara Arab-Yahudi. Dari buku-buku teks Yahudi, Margret mempelajari bahwa Ibrahim adalah nenek moyang bangsa Arab sekaligus bangsa Yahudi.

Margret membaca bahwa pada beberapa abad setelah Ibrahim wafat yaitu pada abad pertengahan, di Eropa, umat Kristen tidak mempunyai toleransi terhadap orang-orang Yahudi. Orang-orang Kristen juga menyiksa, membunuh, bahkan, membantai umat Yahudi.

Hal ini berbeda secara diametral dengan yang terjadi di negara Islam Spanyol (Andalusia), kala itu. Di sana  umat Islam  ‘welcome’ terhadap orang-orang Yahudi. Toleransi kaum Muslimin dan negara Islam sangat mengagumkan dalam sejarah. Orang-orang Yahudi boleh bekerja, bebas dalam perdagangan atau bahkan di jajaran pemerintahan. Di mata Margret atau Peggy kecil, ini adalah keluhuran budi dan peradaban yang tinggi.

Dalam sejarah diketahui bahwa peradaban Islam mengalami kejayaan tertinggi pada masa Negara Islam Andalusia ini—Spanyol sekarang.

Negara Islam bukan cuma tidak membunuhi orang-orang Yahudi, tapi justru merangsang tumbuhnya kebudayaan dan peradaban Yahudi sehingga pada tingkat pencapaian yang tertinggi dan mencapai puncaknya. Kenyataan ini membuat Margret terkagum-kagum pada Islam.

Pada saat itu Margret masih lugu, polos, bahkan naif. Margret berpikir bahwa Yahudi “pulang” ke Palestina untuk memperkuat ikatan keluarga mereka dengan sepupu dekatnya sesama Semit yaitu bangsa Arab. Hal ini wajar malahan bagus, menurut Margret, karena mereka keluarga dekat dalam agama dan budaya.

Margret meyakini  bahwa Yahudi dan Arab akan bekerja sama guna mencapai masa kejayaan yang berikut seperti yang terjadi di negara Islam Andalusia. Masa kejayaan kedua peradaban  itu, yang kali ini menurut keyakinan Margret akan diwujudkan di Timur Tengah.

Keyakinan ini membuat Margret semakin terkagum-kagum pada Islam dan hubungan bersejarah Arab-Yahudi. Kebalikan dari itu, Margret sangat tidak bahagia di “Sekolah Minggu”. Pada masa ini Margret mengidentifikasikan dirinya secara kuat dengan orang-orang Yahudi di Eropa.

Kemudian terjadilah pembantaian besar-besaran terhadap Yahudi oleh Nazi. Margret terkejut bukan alang-kepalang. Dan ia sangat marah ketika tak seorang pun anggota masyarakat  Yahudi bereaksi terhadap persoalan ini.

Menurut keyakinan Margret, masalah persaudaraan Yahudi ini adalah masalah agama yang sangat penting. Ternyata tak seorang pun peduli. Nyatanya, memang, masyarakat Yahudi di lingkungan sekitar Margret tidak peduli pada agamanya, apalagi taat.

Sebut misalnya pada acara keagamaan di Sinagog, anak-anak malah membaca komik yang disembunyikan di balik kitab suci. Anak-anak juga tertawa-tawa mengejek dan mencemooh ketika ritual agama berlangsung. Anak-anak sebaya Margret sangat ribut dan tidak patuh kepada guru. Apalagi kalau para guru itu tidak mampu mendisiplinkan dan mengatur kelas.

Di rumah Margret suasana mempelajari dan mengamalkan agama Yahudi juga tidak lebih menyenangkan. Kakak perempuan Margret sangat membenci “Sekolah Minggu”. Apalagi “Sekolah Minggu” dianggap mengganggu waktu tidur dan santainya di hari libur.

Ibu Margret benar-benar menyeret (dalam arti harfiah) sang kakak dari tempat tidur pada pagi hari, setelah mengguncang-guncang badannya begitu keras. Sang kakak selalu bangun dengan sumpah serapah dan menangis menjerit-jerit.

Akhirnya, orang tua Margret capek menghadapi sang kakak dan membiarkannya berhenti dari “Sekolah Minggu”. Pada hari raya Yahudi alih-alih hadir di Sinagog dan puasa Yom Kippur, Margret dan kakaknya malahan bolos dan kabur. Mereka malah piknik lalu makan-makan di restoran bagus. Sambil cekikikan tentunya.

Ketika orang tuanya yakin bahwa Margret dan kakaknya sangat parah bandelnya di “Sekolah Minggu”, sang ortu masuk ke organisasi agnostik (humanis dan kemanusiaan) Yahudi. Mereka juga memindahkan kedua anaknya yang bandel ke “Sekolah Minggu” milik organisasi ini.

Organisasi ini dikenal luas sebagai organisasi humanis dengan nama “The Ethical Culture Movement” (Gerakan Kebudayaan Etis). “The Ethical Culture Movement” didirikan pada akhir abad ke-19 oleh Felix Adler.

Ketika belajar menjadi Rabbi, Felix Adler tumbuh keyakinannya akan relativitas ibadah agama. Ibadah agama dan nilai-nilai etika, menurut Adler, adalah relatif dan buatan manusia belaka.

Penyembahan kepada Tuhan atau Dewa serta supranaturalisme atau Theologi, tidaklah relevan lagi, menurutnya. Agama sudah tidak pantas lagi dalam dunia modern, kata Adler.

Margret mengikuti “Sekolah Minggu” versi Adler ini, lengkap dengan ajaran-ajaran Adler tentunya. Setiap minggu Margret dengan rajinnya mengikuti sekolah ini, berbeda dengan “Sekolah Minggu” sebelumnya. Margret pun akhirnya lulus dari sekolah ini pada umur 11 tahun.

Sejak saat itu Margret meremehkan dan mencemoohkan upacara-upacara tradisional, penyembahan-penyembahan, peribadatan-peribadatan, dan agama yang terorganisasi.

Pada masa remaja inilah Margret sangat terpengaruh oleh filsafat humanistik. Ia juga menjadi atheis. Apalagi pada masa itu seorang atheis dianggap sebagai seorang yang terdidik. Ketika masa-masa atheis ini, yaitu pada umur 12 tahun, petualangan Margret sangat hebat di dunia intelektual.

Di usia ini, banyak buku dan terutama ensiklopedi, dilahapnya. Ia juga gandrung membaca buku tentang dunia Arab dan Islam. Ia membaca buku TheLance of Kanana karya Harry W. French, sebuah buku yang menceritakan seorang anak Badui.

Ia juga membaca buku Boy of The Desert karya Eunice Tietjiena yang menceritakan seorang anak yang bernama Abdul Aziz. Buku Camel Bells: A Boy from Baghdad yang bertutur tentang seorang anak Irak yang diangkat oleh keluarga Badui pun dilahapnya.

Buku-buku inilah yang mengilhami Margret untuk membuat cerita tentang kehidupan seorang anak di desa kecil di kamp pengungsi Palestina, “Ahmad Khalil”, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Di Tepian Jalur Gaza”. Buku ini ditulis pada usia 14 tahun! Bukan Main!

Sejalan dengan kedewasaan dan kematangan Margret secara intelektual, ia mulai tidak puas dengan atheisme. Ia merasa ada sesuatu yang kurang.Ia memulai pencarian baru. Ia kembali mencari identitas diri. Ia pun memasuki kelompok Baha’iyah atau Baha’i di New York. Kelompok ini bernama “The Caravan of East and West” (Karavan Timur dan Barat).

Kelompok ini dipimpin oleh seorang Persia yang bernama Mirza Ahmed Sohrab. Sohrab pun memberitahu Margret bahwa ia pernah menjadi sekretaris Abdul Baha, sang pendiri Baha’i.

Pada awalnya Margret tertarik pada Baha’i karena keaslian Islamnya, menurut Margret. Ia juga tertarik dengan ajarannya tentang kesatuan umat manusia (ummatan wahidatan). Tetapi kemudian Margret menemukan betapa buruk pengamalan ide-ide Baha’i oleh penganutnya.

Margret kemudian keluar dari Baha’i atau setahun setelah ia masuk. Ia merasa sakit hati, sedih, marah, dan kecewa karena merasa tertipu. Pada umur 18 tahun Margret menjadi anggota cabang gerakan keagamaan Zionis remaja. Gerakan ini dikenal dengan nama Mizrachi Hatzair.

Beberapa bulan kemudian ketika Margret mengetahui seperti apa Zionisme sebenarnya, Margret keluar dengan muak dan jijik. Ia yang selama ini menyangka bahwa Zionisme adalah gerakan persaudaraan dan kerja sama Arab-Yahudi, menjadi marah, kaget, dan kecewa. Ia akhirnya mengetahui borok Zionisme yang hanya membuat-buat dan mencari-cari permusuhan dan peperangan dengan bangsa Arab.

Pada umur 20 tahun Margret kuliah di Universitas New York. Salah satu mata kuliahnya adalah “Judaisme in Islam” (Ajaran Yahudi dalam Islam). Dosen Margret, Rabbi Abraham Issac Katsh, Ketua Jurusan Studi-studi Hebrew, tidak perlu capek-capek meyakinkan mahasiswanya bahwa Islam itu mencontek dari Yahudi. Mayoritas mahasiswanya yang ingin menjadi Rabbi langsung menyetujuinya. Buku teks di kuliah itu yang ditulis oleh sang dosen dengan judul “Took each verse from the Qur’an” sungguh-sungguh menyatakan tanpa bukti bahwa ayat-ayat Qur’an bersumber dari ajaran-ajaran Yahudi.

Meskipun maksud Profesor sebenarnya ingin membuktikan kepada mahasiswa superioritas Yahudi atas Islam, Margret malah menjadi yakin akan hal yang sebaliknya. Justru Islam dan Yahudi bersumber dari Tuhan yang sama. Dan karena Islam lahir belakangan, maka ia merevisi ajaran-ajaran Yahudi. Orang Yahudilah yang harus mengikuti Islam, demikian menurut Margret. 

Usaha-usaha Zionisme yang menyuruh orang-orang Yahudi berimigrasi ke Palestina adalah kolusi antara kekuatan politik dengan pengusaha-pengusaha real estate, demikian dalam benak Margret. Tidak ada landasannya dalam kitab Talmud, menurutnya lagi. Kalaupun ada, itu adalah distorsi disebabkan kolusi. Yang sebenarnya adalah tidak ada.

Fusi antara nasionalisme Yahudi dengan agama ternyata malah memiskinkan orang-orang Yahudi secara spiritual, demikian Margret. Eksklusivitas yang rigid dari Yahudi juga menjadi penyebab pembantaian umat lain terhadap orang-orang Yahudi.

Menurut Margret, kalau orang-orang Yahudi inklusif dan toleran pasti mereka tidak akan dibantai sepanjang sejarah umat manusia. Margret pun menjadi sadar bahwa Zionisme adalah kombinasi antara rasisme, Tribalisme Yahudi, dan nasionalisme sekuler modern.

Melihat ketidakadilan yang dilakukan oleh PBB dalam mengatasi hubungan Arab-Yahudi di Palestina hati Margret menjadi tambah tidak yakin dengan agama Yahudi. Ia tidak betah dan tidak kuat lagi mengaku sebagai orang Yahudi. Ia melihat kecurangan-kecurangan PBB yang disogok gerakan Zionisme melalui Lobby Yahudi Amerika. Ia menjadi sangat malu sebagai orang Yahudi.

Semakin Margret mengikuti kuliah Profesor Katsh, semakin Margret tidak meyakini agamanya. Margret kian merasa agama Yahudi banyak cacatnya. Apalagi sudah beberapa bulan Margret membaca Al Qur’an dan Hadits. Margret membandingkan Al-Qur’an dengan Talmud. Ia merasa Al-Qur-an lebih sempurna, lebih logis, dan lebih argumentatif dibanding Talmud.

Dan pada pagi hari di bulan November 1954, Margret masuk Islam. Keluarga Margret menghalang-halangi keinginan Margret masuk Islam. Dengan banyak argumen mereka menyuruh Margret keluar dari Islam.

Keluarga Margret memperingatkan bahwa Islam akan menyulitkan hidup Margret. Mereka berpendapat bahwa Islam tidak seperti Yahudi dan Kristen yang menjadi bagian sejak Amerika berdiri. Mereka memberitahukan bahwa Islam akan membuatnya terasing. Terasing dari keluarga dan terisolasi dari masyarakat.

Pada masa itu keyakinan Margret akan Islam belum terlalu kuat. Ia pun tidak tahan terhadap tekanan-tekanan dari keluarga dan masyarakat sekitarnya.

Sebagai hasil dari kekacauan dalam diri Margret, jiwa dan pikirannya terganggu. Ia pun harus DO dari kuliahnya. Selama dua tahun Margret tinggal di rumah di bawah perawatan medis. Tetapi kesehatan jiwanya semakin memburuk.

Dalam keputusasaan sejak tahun 1957-1959 orang tua Margret memasukkan Margret ke rumah sakit jiwa pemerintah dan RSJ Swasta. Di RSJ pemerintah ini Margret berjanji apabila ia benar-benar sembuh dan dipulangkan dari RSJ ini ia akan memeluk Islam dengan seyakin-yakinnya.

Orang tua Margret tetaplah orang tua. Mereka sangat menyayangi anaknya. Mereka tidak ingin anaknya tambah parah sakitnya. Mereka ingin anaknya cepat sembuh. Mereka tidak tega melarang Margret untuk masuk Islam. Mereka pun berjanji kepada Margret, kalau Margret benar-benar sembuh, ia akan dibolehkan masuk Islam. Limpahan kasih sayang dari orang tua Margret sangat efektif menyembuhkan sakit jiwa yang diderita Margret.

Akhirnya Margret  dibolehkan pulang pada tahun 1959. Setelah kembali ke rumah, ia mencari-cari peluang untuk bertemu kaum Muslimin di New York. Ia terus berdoa selain berusaha.

Doa Margret dikabulkan oleh Allah Yang Maha Penyayang, terutama kepada hambanya yang mau menepati janjinya ketika di alam ruh. Margret berhasil mempunyai kenalan Muslimin dan Muslimah. “Mereka adalah orang-orang yang paling baik,” demikian pendapat Margret.

Pada tahun 1961 di usianya yang ke-27, Margret masuk Islam lagi. Ia bersyahadat disaksikan oleh Syekh Daud Ahmad Faisal dan berganti nama menjadi Maryam Jamilah.

Maryam juga mulai menulis banyak artikel untuk pers Islam di Amerika. Sebelum berkenalan dengan tokoh-tokoh Islam Maryam selalu menderita. Kalimat perpisahan pada deritanya baru bisa ia ucapkan setelah ia mengenal Sayyid Abul A’la al-Maududi, seorang imam besar umat yang tinggal di Pakistan.

Mulai dari surat-menyurat yang mengharukan antara seorang bapak dengan putrinya, antara seorang Muslimah intelektual dengan ulama besar yang ternyata sama sekali bersesuaian pendapat ini, akhirnya mentas-lah dari gadis ini seorang Maryam Jamilah yang tegar.

Ternyata sebelum mengemukakan pendapat mereka masing-masing, cara berpikir mereka sudah sama. Dalam surat pertama Maududi kepada Margret yang merupakan surat balasan, Maududi menulis:

“Ketika saya membaca surat dan artikel Anda, saya merasa membaca ide-ide saya sendiri. Saya harap perasaan Anda akan sama ketika Anda mempunyai kesempatan mempelajari bahasa Urdu dan membaca buku-buku saya. Walaupun dalam kenyataannya kita belum pernah berkenalan sama sekali. Kebulatan suara satu sama lain dari kita dalam pemikiran bisa disimpulkan langsung. Faktanya adalah bahwa kita berdua mempunyai sumber inspirasi yang sama dan satu: Islam.”

Berkat ketekunan, semangatnya dan hidayah Allah SWT, sebentar saja namanya telah bisa disejajarkan dengan ulama-ulama besar terkemuka di dunia Islam, menyusul rekan-rekannya sesama muallaf lain yang juga sahabat pena Margret seperti: Marmaduke Pickthall, Muhammad Asad, T.B. Irving dan lain-lain.

Sebelum masuk Islam pun Maryam sudah merasa bahwa integritas keagamaan di dunia kontemporer mempunyai ancaman yang sangat besar. Ancaman ini disebut gerakan modernisasi Barat. Gerakan ini bermaksud mencampur pengajaran agama dengan reformasi dan filsafat buatan manusia. Kalau si pemeluk agama itu punya filter yang kuat hal ini tidak menjadi masalah. Tetapi kalau tidak? Tentu bermasalah!

Mengapa Maryam atau Margret berpendapat demikian? Ketika kecil dan remaja ia mengalaminya sendiri. Keluarganya yang kurang taat pada agama Yahudi semakin hancur keyakinannya karena modernisasi Barat. Mereka akhirnya hanya “Yahudi KTP” saja. Organisasi yang berkedok Yahudi reformis yang pernah ia masuki pun sami mawon. Malah organisasi inilah yang membuatnya menjadi atheis.

Ketika masuk Islam lagi Margret yang mengganti namanya menjadi Maryam Jamilah terkejut pula melihat kenyataan, banyak sarjana Muslim didikan Barat yang ragu-ragu dengan ajaran Islam. Antara lain mereka mengatakan bahwa ajaran Islam mencontek dari ajaran Yahudi.

Maka, Maryam pun ingin memerangi ini melalui tulisan. Abul A’la al-Maududi sangat mendukung rencana Maryam ini. Maryam menulis banyak artikel di majalah The Islamic Review dan The Muslim Digest. Di antara artikel itu terdapat tulisan berjudul “Sebuah Kritikan terhadap buku Islam in Modern History” (buku itu dikarang oleh Wilfred Cantwell Smith).

Artikel lain berjudul “Kritik terhadap buku Reinterpretation of Islam” berisi kritik atas buku karangan Asaf A. Fyzee (wakil rektor Universitas Kashmir). Buku ini berbicara tentang Islam yang diungkapkan menjadi etika kosong yang tidak memberi dampak kepada pembentukan masyarakat dan kebudayaan (terbit tahun 1960).

Sama seperti Maududi, Maryam juga mengritik Sosiolog Turki Ziya Gokalp. Di Indonesia Buya Dr Mohammad Natsir juga mengritik Ziya Gokalp dalam polemik dengan Soekarno. Memang pemikiran Ziya seperti apa, kok banyak yang mengritik?

Ziya mengatakan bahwa nasionalisme dan sekularisme cocok dengan Islam. Sudah pasti tokoh-tokoh Islam di atas tidak setuju. Maryam juga membantah pendapat Sir Sayyid Ahmad Khan yang sangat mengagung-agungkan ilmu pengetahuan dan filsafat Eropa. Ia juga mengkritik para pembaru Mesir seperti Muhammad Abduh dan Taha Husain. Ia menentang pula Presiden Tunisia Habib Bourguiba (memerintah 1957-1987) yang menyatakan bahwa puasa Ramadhan merupakan penghalang pembangunan ekonomi Tunisia.

Pada tahun 1962, atas tawaran Al-Maududi, Maryam Jamilah pindah ke Pakistan dan menetap di Lahore sebagai anggota keluarga Al-Maududi. Setahun kemudian ia menikah dengan Yusuf Khan, seorang pengurus harian Jami’at Islami, gerakan Islam yang didirikan Maududi pada tahun 1941.

Pena Maryam sangat tajam menusuk, membedah, dan memreteli peradaban Barat yang berlawanan dengan peradaban Islam. Buku-buku Maryam yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, di antaranya: ‘Islam dalam Kancah Modernisasi’, ‘Menjemput Islam’, ‘Para Mujahid Agung’, dan ‘Di Tepian Jalur Gaza’.
Kini, Maryam Jamilah telah tiada, baru saja meninggalkan kita, dalam usia 78 tahun, memenuhi panggilan Rabb-nya. Semoga Allah memberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya. Dan, mudah-mudahan Allah semakin memperbanyak Mujahid-Mujahidah yang berjuang melalui pena seperti anjuran Ziaudin Sardar, melakukan “Jihad Intelektual”. Wallahu A’lam bish Shawab.

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan GRATIS via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di CariManfaat.com

No comments

Friday, January 25, 2013

Mengenal Ustadz Abu Bakar Ba’asyir



Nama Ustadz Abu Bakar Ba’syir menjadi tonggak penting militansi jihad bagi umat Islam di Indonesia. Sebutan teroris pun kian akrab kita dengar selama proses persidangan menjerat beliau ke jeruji besi. Padahal di tengah itu semua, sosok Ustadz Abu adalah pribadi yang tegar, sederhana, lurus, bahkan sangat lemah lembut. Ia senantiasa menyapa ramah terhadap umat Islam yang ingin mendengarkan tausiyah-tausiyahnya.

Jika kita melongok ke masa muda, maka kita akan menemukan betapa sosok Ustadz Abu memang ditempa pengalaman mengarungi hidup dengan penuh kerja keras.

Sedari kecil Ustadz Abu -sapaan akrab beliau-sudah hidup mandiri. Keterbatasan kedua orang tuanya dalam segi ekonomi dan fisik, tidak menghalanginya untuk tetap tegar di jalan Allah dan memacu diri menuntut ilmu sebagai insan bertauhid. Ya meski harus bersepeda sejauh 26 KM.

Lahir di Desa Pekunden, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang Jawa Timur, sebuah desa di pingiran Kabupaten Jombang-Jawa Timur. Kelahirannya di Jombang disambut sayup-sayup senandung takbir yang terdengar di sudut-sudut desa yang didengungkan anak-anak melalui surau-surau tua di sekitar rumahnya.

Senandung takbir perayaan peringatan keteladanan pengorbanan Bapak Tauhid, Ibrahim ‘alaihissalam yang hendak menyembelih putranya. Ia terlahir pada tanggal 12 Dzulhijjah 1359, dua hari setelah Hari Raya Idul Adha.

Gemuruh takbir yang menggetarkan hati beriringan dengan gemuruh bangsa Indonesia yang sedang memperjuangkan kemerdekaannya untuk keluar dari penjajahan tentara kafir Belanda dalam suasana serba kekurangan dan keprihatinan.

Tanggal kelahirannya bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 1938. Raut muka syukur dan linangan air mata syukur kedua orang tuanya mengiringi kelahiran sosok Abu Bakar Ba’asyir yang diharapkan meneladani pengorbanan Ibrahim dan semangat patriotisme seorang pejuang dalam mempertahankan prinsip kebenaran dan keislaman. Ia terlahir bersama tiga saudara laki-laki dan tiga saudara perempuan.

Orang tua Abu Bakar Ba’asyir bukanlah seorang yang kaya raya umumnya kebanyakan warga masyarakat keturunan Arab lainnya. Namun, kecintaan terhadap Islam dan ketundukan orang tuanya pada Allah-lah yang menjadikan Abu bakar kecil ini mampu bertahan. Darah keturunan Hadramaut Yaman mengalir deras dalam dirinya. Ayahnya bernama Abud bin Ahmad dari keluarga Bamu’alim Ba’asyir yang membuat Abu Bakar menyandang marga Ba’asyir di belakang nama aslinya.

Kenangan indah bersama sang ayah tak banyak ia rasakan dan nikmati. Saat usia 7 tahun, ayahnya harus meninggalkan tawa riang Abu Bakar kecil menuju keharibaan Ilahi. Ayahnya meninggal dunia. Ia menjadi yatim di tengah kehidupan bangsa Indonesia yang masih kacau meskipun telah memperoleh kemerdekaannya.

Di tengah carut marutnya kehidupan bangsa Indonesia, ibunya yang masih buta huruf latin aksara Indonesia mengasuh sendiri Abu Bakar kecil. Ibunya bernama Halimah yang lahir di Indonesia walaupun masih juga berketurunan Yaman dari keluarga Bazargan.

Demi melanjutkan amanat agama dan suaminya, sang Bunda terus menanamkan nilai-nilai keislaman demi kebahagiaan sang putra kelak. Ibundanya yang pandai membaca al-Quran dan seorang muslimah taat beragama selalu mendampingi pendidikan agama sang anak di rumah meskipun Abu Bakar kecil juga tak pernah absen menghadiri pendidikan agama di mushalla kampung tempat tinggalnya.

Tak ingin membiarkan anaknya tertinggal dalam kebodohan, orang tuanya memasukkan Abu Bakar kecil untuk menempuh pendidikan pertamanya di sebuah Madrasah Ibtida’iyah (Sekolah Islam setingkat SD). Namun, dikarenakan situasi konflik revolusi bangsa Indonesia melawan Belanda pada saat itu, sekolahnya harus tertunda dan mengalami jeda. Baru kemudian setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, ia dipindahkan ke Sekolah Rakyat (Sekolah umum sederajat SD saat ini).

Selama menjadi siswa di madrasah, Abu Bakar kecil sempat ikut kegiatan gerakan Kepanduan Islam Indonesia (pada masa orde lama yang kemudian difusikan dalam Gerakan Pramuka). Untuk menutup kekurangan sang anak dalam ilmu agama, setiap malamnya, Abu Bakar kecil belajar mengaji dan ilmu agama di mushalla desa tempat tinggalnya. Selain kegiatannya di mushalla, sang bunda masih terus mendampingi langsung pendidikan Abu Bakar kecil di rumah.

Setelah lulus dari Sekolah Rakyat (SR), pendidikannya berlanjut ke jenjang sekolah menengah. Ia bersekolah di sebuah SMP Negeri di kota Jombang yang berjarak 13 KM dari rumah tempat tinggalnya. Setiap hari, perjalanan sejauh minimal 26 Km ia tempuh dengan sepeda.

Semasa SMP ini, Abu Bakar aktif mengikuti kegiatan berorganisasi dalam Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) ranting Mojoagung disamping masih menjadi anggota Gerakan Pramuka.

Menginjak masa remaja setelah merampungkan sekolah di SMP, ia melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMA. Saat itu, Abu Bakar muda, masuk SMA Negeri Surabaya. Kondisi perekonomian Indonesia yang sedang mengalami keterpurukan merata di seluruh lapisan masyarakat membuat pendidikannya di SMA hanya mampu bertahan selama 1 tahun. Kegiatan berorganisasinya pun juga terpaksa harus terhenti. Selanjutnya, ia memutuskan hijrah ke Solo untuk membantu kakaknya yang sedang mengembangkan sebuah perusahaan sarung tenun di Kota Solo.

Hingga pada tahun 1959 M, atas dorongan dan bantuan kedua kakaknya, Salim Ba’asyir dan Ahmad Ba’asyir, ia mendaftar sebagai santri di Pondok Pesantren Darussalam Gontor, sebuah Pondok Pesantren yang terbilang terbaik dan termaju di Indonesia.

Atas berkat rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia berhasil menjadi santri di pondok pesantren tersebut. Di sini, keaktifan berorganisasinya kembali tersalurkan dalam wadah Pelajar Islam Indonesia (PII) cabang Gontor. Impiannya melanjutkan pendidikan yang sempat terhenti membuatnya serasa melihat pelita di tengah buta kegelapan malam.

Empat tahun menjadi santri pondok pesantren Darussalam Gontor, dengan rahmat Allah, ia berhasil lulus dari kelas Mualimin pada tahun 1963 M. Semangatnya untuk menempuh pendidikan masih membara di benaknya sehingga (masih atas bantuan kakaknya), ia melanjutkan studinya di Universitas Al Irsyad jurusan Dakwah di kota Solo selama kurang lebih 3 tahun.

Selama menjadi mahasiswa, ia aktif dalam beberapa organisasi pemuda. Ia menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Solo. Di HMI, dia pernah mendapatkan amanah sebagai ketua Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI) -sebuah lembaga semi otonom HMI- cabang Solo di masa Ir. Imaduddin sebagai Ketua Umumnya.

Di organisasi Gerakan Pemuda Islam Indonesia, Abu Bakar Ba’syir pernah mendapatkan amanat dakwah sebagai Ketua pada tahun 1961. Selain itu, di dalam organisasi Pemuda Al Irsyad, ia menjadi sekretaris cabang Solo.

Menginjak usia dewasa, panggilan hati untuk menikah mengarahkannya untuk menyunting seorang muslimah bernama Aisyah binti Abdurrahman Baraja’. Sejak saat itu, keberadaan sang istri selalu menyertai perjuangan dakwahnya. Kesetiaan sang istri tak hanya dibuktikan dengan kata mutiara dan hiasan pujian semata. Namun, keberadaan sang istri, Aisyah Baraja’, dalam perjuangan dakwah terwujud dalam tindakan nyata dan fakta.

Dari rahim istrinya, keduanya memiliki tiga orang anak yang saat ini telah menikah dan masih hidup semuanya. Tiga anaknya terdiri atas 1 orang putri dan 2 orang putra. Mereka adalah Zulfah, Rosyid Ridho dan Abdul Rohim. Kelak dari putra-putrinya ini, estafet dakwah tauhid akan terus berlangsung.[islampos]

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan GRATIS via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di CariManfaat.com

No comments

Kisah Syaikh Bin Baz Dan Seorang Pencuri


SALAH seorang murid Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullah- menceritakan kisah ini kepada-ku (penulis kisah ini-pen). Dia berkata : Pada salah satu kajian Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah di Masjidil Haram, salah seorang murid beliau bertanya tentang sebuah masalah yang didalamnya ada syubhat, serta pendapat dari Syaikh Bin Baz rahimahullah tentang masalah tersebut. maka Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab pertanyaan penanya serta memuji Syaikh Bin Baz rahimahullah.

Ditengah-tengah mendengar kajian, tiba-tiba ada seorang laki-laki dengan jarak kira-kira 30 orang dari arah sampingku kedua matanya mengalirkan air mata dengan deras, dan suara tangisannya pun keras hingga para murid pun mengetahuinya.

Di saat Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah selesai dari kajian, dan majelis sudah sepi aku melihat kepada pemuda yang tadi menangis.Ternyata dia dalam keadaan sedih, dan bersamanya sebuah mushhaf. Aku pun lebih mendekat hingga kemudian aku bertanya kepadanya setelah kuucapkan salam: “Bagaimana kabarmu wahai akhi (saudaraku), apa yang membuatmu menangis ?” Maka ia menjawab dengan bahasa yang mengharukan, “Jazakallahu khairan.” Akupun mengulangi sekali lagi, “Apa yang membuatmu menangis akhi…?”

Dia pun menjawab dengan tekanan suara yang haru, “Tidak apa-apa, sungguh aku telah ingat Syaikh Bin Baz rahimahullah, maka aku pun menangis.”Kini menjadi jelas bagiku dari penuturannya bahwa dia dari Pakistan, sedang dia mengenakan pakaian orang Saudi.

Dia meneruskan keterangannya: “Dulu aku mempunyai sebuah kisah bersama Syaikh Bin Baz rahimahullah, yaitu sepuluh tahun yang lalu aku bekerja sebagai satpam pada salah satu pabrik batu bata di kota Thaif. Suatu ketika datang sebuah surat dari Pakistan kepadaku yang menyatakan bahwa ibuku dalam keadaan kritis, yang mengharuskan operasi untuk penanaman sebuah ginjal. Biaya operasi tersebut membutuhkan tujuh ribu Riyal Saudi (kurang lebih 17,5 juta Rupiah). Jika tidak segera dilaksanakan operasi dalam seminggu, bisa jadi dia akan meninggal. Sedangkan beliau sudah berusia lanjut.

Saat itu, aku tidak memiliki uang selain seribu Riyal, dan aku tidak mendapati orang yang mau memberi atau meminjami uang. Maka aku pun meminta kepada perusahaan untuk memberiku pinjaman. Mereka menolak. Aku menangis sepanjang hari. Dia adalah ibu yang telah merawatku, dan tidak tidur karena aku.Pada situasi yang genting tersebut, aku memutuskan untuk mencuri pada salah satu rumah yang bersebelahan dengan perusahaan pada jam dua malam. Beberapa saat setelah aku melompati pagar rumah, aku tidak merasakan apa-apa kecuali para polisi tengah menangkap dan melemparkanku ke mobil mereka. Setelah itu dunia pun terasa menjadi gelap.

Tiba-tiba, sebelum shalat subuh para polisi mengembalikanku ke rumah yang telah kucuri. Mereka memasukkanku ke sebuah ruangan kemudian pergi. Tiba-tiba ada seorang pemuda yang menghidangkan makanan seraya berkata, “Makanlah, dengan membaca bismillah !” Aku pun tidak mempercayai yang tengah kualami.

Saat adzan shalat subuh, mereka berkata kepadaku, “Wudhu’lah untuk shalat!” Saat itu rasa takut masih menyelimutiku. Tiba-tiba datang seorang lelaki yang sudah lanjut usia dipapah salah seorang pemuda masuk menemuiku. Kemudian dia memegang tanganku dan mengucapkan salam kepadaku seraya berkata, “Apakah engkau sudah makan ?” Aku pun, ‘Ya, sudah.’ Kemudian dia memegang tangan kananku dan membawaku ke masjid bersamanya. Kami shalat subuh. Setelah itu aku melihat lelaki tua yang memegang tanganku tadi duduk diatas kursi di bagian depan masjid, sementara banyak jama’ah shalat dan banyak murid mengitarinya.Kemudian Syaikh tersebut memulai berbicara menyampaikan sebuah kajian kepada mereka. Maka aku pun meletakkan tanganku diatas kepalaku karena malu dan takut.

Ya Allah…, apa yang telah kulakukan ? aku telah mencuri di rumah Syaikh Bin Baz ?!Sebelumya aku telah mendengar nama beliau, dan beliau telah terkenal di negeri kami, Pakistan.Setelah Syaikh Bin Baz rahimahullah selesai dari kajian, mereka membawaku ke rumah sekali lagi. Syaikh pun memegang tanganku, dan kami sarapan pagi dengan dihadiri oleh banyak pemuda. Syaikh mendudukkanku di sisi beliau. Ditengah makan beliau bertanya kepadaku, “Siapakah namamu ?” Kujawab, “Murtadho.”Beliau bertanya lagi, “Mengapa engkau mencuri ?” Maka aku ceritakan kisah ibuku. Beliau berkata, “Baik, kami akan memberimu 9000 (sembilan ribu) Riyal.” Aku berkata kepada beliau, “Yang dibutuhkan hanya 7000 (tujuh ribu) Riyal.” Beliau menjawab, “Sisanya untukmu, tetapi jangan lagi mencuri wahai anakku.”Aku mengambil uang tersebut, dan berterima kasih kepada beliau dan berdo’a untuk beliau. aku pergi ke Pakistan, lalu melakukan operasi untuk ibu. Alhamdulillah, beliau sembuh. Lima bulan setelah itu, aku kembali ke Saudi, dan langsung mencari keberadaan Syaikh Bin Baz rahimahullah. Aku pergi kerumah beliau. aku mengenali beliau dan beliau pun mengenaliku. .

Kemudian beliau pun bertanya tentang ibuku. Aku berikan 1500 (seribu lima ratus) Riyal kepada beliau, dan beliau bertanya, “Apa ini ?” Kujawab, “Itu sisanya.” Maka beliau berkata, “Ini untukmu.”Ku katakan, “Wahai Syaikh, saya memiliki permohonan kepada anda.” Maka beliau menjawab, “Apa itu wahai anakku ?” kujawab, “Aku ingin bekerja pada anda sebagai pembantu atau apa saja, aku berharap dari anda wahai Syaikh, janganlah menolak permohonan saya, mudah-mudahan Allah menjaga anda.” Maka beliau menjawab, “Baiklah.” Aku pun bekerja di rumah Syaikh hingga wafat beliau rahimahullah.

Selang beberapa waktu dari pekerjaanku di rumah Syaikh, salah seorang pemuda yang mulazamah kepada beliau memberitahuku tentang kisahku ketika aku melompat kerumah beliau hendak mencuri di rumah Syaikh. Dia berkata, “Sesungguhnya ketika engkau melompat ke dalam rumah, Syaikh Bin Baz saat itu sedang shalat malam, dan beliau mendengar sebuah suara di luar rumah. Maka beliau menekan bel yang beliau gunakan untuk membangunkan keluarga untuk shalat fardhu saja. Maka mereka terbangun semua sebelum waktunya. Mereka merasa heran dengan hal ini. Maka beliau memberi tahu bahwa beliau telah mendengar sebuah suara. Kemudian mereka memberi tahu salah seorang penjaga keamanan, lalu dia menghubungi polisi. Mereka datang dengan segera dan menangkapmu. Tatkala Syaikh mengetahui hal ini, beliau bertanya, ‘Kabar apa ?’ Mereka menjawab, ‘Seorang pencuri berusaha masuk, mereka sudah menangkap dan membawa ke kepolisian.’ Maka Syaikh pun berkata sambil marah, ‘Tidak, tidak, hadirkan dia sekarang dari kepolisian, dia tidak akan mencuri kecuali dia orang yang membutuhkan’.”

Maka di sinilah kisah tersebut berakhir. Aku katakan kepada pemuda tersebut, “Sungguh matahari sudah terbit, seluruh umat ini terasa berat, dan menangisi perpisahan dengan beliau rahimahullah. Berdirilah sekarang, marilah kita shalat dua rakaat dan berdo’a untuk Syaikh rahimahullah.” [panduan pernikahan dalam islam]

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan GRATIS via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di CariManfaat.com

No comments

Thursday, January 24, 2013

Asmaa Mahfouz, Muslimah Dibalik Revolusi Mesir





Nama Asmaa Mahfouz mungkin tidak sepopuler nama tokoh-tokoh politik yang bersuara dalam revolusi 19 hari menumbangkan rezim Husni Mubarak di Mesir. Tapi ia adalah sosok perempuan muda yang aktif dalam gerakan pembaharuan di Mesir, termasuk revolusi 19 hari kemarin. Orasi-orasinya lewat jejaring sosial dan rekaman video telah menginspirasi rakyat Mesir untuk berani melawan pemimpin yang zalim, meski untuk itu Asmaa dan keluarganya harus menghadapi tekanan dan tindakan represif.

Asmaa adalah satu dari sedikit muslimah di Mesir yang berani terjun ke dunia aktivis dan politik. Usianya baru 26 tahun dan dalam usia semuda itu, ia sudah menjadi salah satu tokoh gerakan demokrasi di Mesir yang bergulir sejak tiga tahun lalu. Ia lulusan sekolah bisnis dan manajemen di American University Kairo, tahun 2008.

Aktivitas Asmaa di situs jejaring sosial, membuatnya terkenal sebagai aktivis di kalangan anak muda Mesir. Asmaa adalah salah seorang pendiri gerakan "Gerakan Pemuda 6 April". Gerakan yang ia gagas lewat akun grup di Facebook. Akun itu dibuat untuk mendukung para buruh di El-Mahalla El-Kubra--pusat industri di utara kota Kairo--yang berencana melakukan aksi mogok kerja pada tanggal 6 April 2008.

Tapi, Asmaa harus menerima konsekuensi yang cukup berat karena aktivitasnya itu. Ia dan keluarganya mendapat tekanan dari aparat keamanan Mesir. Asmaa juga harus kehilangan pekerjaannya sebagai akuntan di-perusahaan ekspor dan impor Al-Shaimaa--setelah perusahaan itu memecat Asmaa karena aktivitas politiknya.

Konsekuensi pahit itu tak membuat Asmaa mundur. Ia terus aktif menyuarakan gerakan pro-demokrasi di Mesir yang puncaknya terjadi bulan Januari 2011 kemarin. Dengan menggunakan jejaring sosial Facebook, Twitter dan YouTube, Asmaa berhasil menggalang massa untuk berpartisipasi dalam aksi menumbangkan rezim Mubarak. Bahkan, setelah Mubarak mundur, pemerintahan baru Mesir pernah meminta untuk bertemu dengan Asmaa, tapi ia menolak.

Video Asmaa yang diunggah ke YouTube pada 18 Januari lalu mampu menggerakan massa untuk turun ke jalan. Dalam rekaman video itu Asmaa menceritakan tentang empat warga Mesir yang membakar dirinya sendiri sebagai bentuk protes terhadap kemiskinan, kelaparan, keterpurukan dan penghinaan yang dilakukan pemerintah. Keempat warga Mesir itu berharap tindakannya bisa memicu revolusi seperti yang terjadi di Tunisia.

"Mungkin kita bisa mendapatkan kebebasan, keadilan, kehormataan dan kemuliaan sebagai manusia," kata Asmaa dalam rekaman videonya.

Setelah mengunggah videonya di YouTube, Asmaa datang ke alun-alun Tahrir. Dia berdiri di sana sendirian sambil membawa poster--ia bahkan menuliskan nomor teleponnya di poster itu--dan mengajak orang-orang di jalan untuk datang dan bergabung dengannya. Tapi hanya tiga orang pemuda yang datang, dan mereka semua akhirnya ditangkap oleh polisi Mesir.

Setelah insiden itu, Asmaa bertambah semangat menyerukan aksi protes. "Orang-orang yang mengorbankan dirinya sendiri ini (empat orang Mesir yang membakar diri) tidak takut mati. Tapi kita takut pada aparat keamanan. Bayangkan! Apakah Anda juga seperti itu?"

"Saya tidak akan membakar diri. Kalau aparat keamanan yang akan membakar saya, biarkan mereka datang dan melakukannya. Kalau Anda lelaki sejati, datang dan bergabunglah dengan saya pada tanggal 25 Januari."

"Kalau ada yang bilang kaum perempuan seharusnya tidak ikut protes karena mereka bisa kena pukul, biarkan lelaki yang bilang seperti itu menunjukkan kehormatan dan martabatnya dengan bergabung dengan saya pada tanggal 25 Januari," demikian ajakan Asmaa dalam rekaman videonya.

Asmaa bahkan menantang orang-orang yang pesimis dengan ajakannya melakukan aksi protes terhadap pemerintah. Ia menyebut orang-orang seperti itulah yang menjadi alasan aksi massa ini. Ia bahkan menyebut orang-orang seperti itu sebagai pengkhianat, sama seperti presiden dan polisi yang memukuli demonstran di jalan.Warta Unik

"Kehadiran Anda diantara kami akan membuat sebuah perbedaan. Ajaklah tetangga, kolega, teman dan keluarga untuk datang. Jangan cuma duduk dan menonton berita atau mengomentarinya di Facebook, yang hanya akan merendahkan kita."

"Jika kalian laki-laki terhormat, kalian harus datang, melindungi kami dan kaum perempuan saat aksi protes. Kalau kalian hanya diam di rumah, kalian akan merasa menyesal pada negara dan rakyat. Kalian bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada kami di jalan saat kalian cuma duduk saja di rumah," ujar Asmaa.

Orasinya lewat rekaman-rekaman videonya menginspirasi rakyat Mesir untuk tidak takut melawan pemerintah dan hanya takut pada azab Allah Swt. "Tuhan tidak mengubah nasib suatu kaum, sampai kaum itu sendiri yang mengubahnya," tukas Asmaa mengutip ayat Al-Quran.

Namun setelah itu, pemerintah Mesir memblokir situs jejaring sosial. Pada harian New York Times, Asmaa mengungkapkan, sebenarnya ia khawatir akan reaksi masyarakat Mesir setelah ia mengunggah rekaman videonya. Masyarakat Mesir adalah masyarakat yang menginginkan agar kaum perempuan bersikap dan berperilaku baik dan sopan.

"Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, sampai kapan saya akan bersikap takut dan ragu-ragu. Saya harus melakukan sesuatu," ujar Asmaa menjawab kekhawatirannya.

Tak disangka, ternyata puluhan orang merespon semangat yang disampaikan Asmaa dalam videonya dan menyatakan siap datang pada tanggal 25 Januari. Dunia pun menyaksikan sebuah gerakan rakyat yang berubah menjadi revolusi Mesir.

"Sepanjang Anda mengatakan tidak ada harapan, maka tidak ada harapan. Tapi jika Anda ikut turun dan mengambil sikap, harapan itu akan selalu ada," tukas Asmaa, si srikandi revolusi Mesir.

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan GRATIS via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di CariManfaat.com

No comments

Ibnu al-Haitham, Ilmuwan Muslim Penemu Kamera





Kamera merupakan salah satu penemuan penting yang dicapai umat manusia. Lewat jepretan dan bidikan kamera, manusia bisa merekam dan mengabadikan beragam bentuk gambar mulai dari sel manusia hingga galaksi di luar angkasa. Teknologi pembuatan kamera, kini dikuasai peradaban Barat serta Jepang. Sehingga, banyak umat Muslim yang meyakini kamera berasal dari peradaban Barat.

Jauh sebelum masyarakat Barat menemukannya, prinsip-prinsip dasar pembuatan kamera telah dicetuskan seorang sarjana Muslim sekitar 1.000 tahun silam. Peletak prinsip kerja kamera itu adalah seorang saintis legendaris Muslim bernama Ibnu al-Haitham. Pada akhir abad ke-10 M, al-Haitham berhasil menemukan sebuah kamera obscura. Itulah salah satu karya al-Haitham yang paling menumental. Penemuan yang sangat inspiratif itu berhasil dilakukan al-Haithan bersama Kamaluddin al-Farisi. Keduanya berhasil meneliti dan merekam fenomena kamera obscura. Penemuan itu berawal ketika keduanya mempelajari gerhana matahari. Untuk mempelajari fenomena gerhana, Al-Haitham membuat lubang kecil pada dinding yang memungkinkan citra matahari semi nyata diproyeksikan melalui permukaan datar.

Kajian ilmu optik berupa kamera obscura itulah yang mendasari kinerja kamera yang saat ini digunakan umat manusia. Oleh kamus Webster, fenomena ini secara harfiah diartikan sebagai ”ruang gelap”. Biasanya bentuknya berupa kertas kardus dengan lubang kecil untuk masuknya cahaya. Teori yang dipecahkan Al-Haitham itu telah mengilhami penemuan film yang kemudiannya disambung-sambung dan dimainkan kepada para penonton.

“Kamera obscura pertama kali dibuat ilmuwan Muslim, Abu Ali Al-Hasan Ibnu al-Haitham, yang lahir di Basra (965-1039 M),” ungkap Nicholas J Wade dan Stanley Finger dalam karyanya berjudul The eye as an optical instrument: from camera obscura to Helmholtz’s perspective.

Dunia mengenal al-Haitham sebagai perintis di bidang optik yang terkenal lewat bukunya bertajuk Kitab al-Manazir (Buku optik). Untuk membuktikan teori-teori dalam bukunya itu, sang fisikawan Muslim legendaris itu lalu menyusun Al-Bayt Al-Muzlim atau lebih dikenal dengan sebutan kamera obscura, atau kamar gelap.

Bradley Steffens dalam karyanya berjudul Ibn al-Haytham:First Scientist mengungkapkan bahwa Kitab al-Manazir merupakan buku pertama yang menjelaskan prinsip kerja kamera obscura. “Dia merupakan ilmuwan pertama yang berhasil memproyeksikan seluruh gambar dari luar rumah ke dalam gambar dengan kamera obscura,” papar Bradley.

Istilah kamera obscura yang ditemukan al-Haitham pun diperkenalkan di Barat sekitar abad ke-16 M. Lima abad setelah penemuan kamera obscura, Cardano Geronimo (1501 -1576), yang terpengaruh pemikiran al-Haitham mulai mengganti lobang bidik lensa dengan lensa (camera).

Setelah itu, penggunaan lensa pada kamera onscura juga dilakukan Giovanni Batista della Porta (1535-1615 M). Ada pula yang menyebutkan bahwa istilah kamera obscura yang ditemukan al-Haitham pertama kali diperkenalkan di Barat oleh Joseph Kepler (1571 – 1630 M). Kepler meningkatkan fungsi kamera itu dengan menggunakan lensa negatif di belakang lensa positif, sehingga dapat memperbesar proyeksi gambar (prinsip digunakan dalam dunia lensa foto jarak jauh modern).

Setelah itu, Robert Boyle (1627-1691 M), mulai menyusun kamera yang berbentuk kecil, tanpa kabel, jenisnya kotak kamera obscura pada 1665 M. Setelah 900 tahun dari penemuan al-Haitham pelat-pelat foto pertama kali digunakan secara permanen untuk menangkap gambar yang dihasilkan oleh kamera obscura. Foto permanen pertama diambil oleh Joseph Nicephore Niepce di Prancis pada 1827.

Tahun 1855, Roger Fenton menggunakan plat kaca negatif untuk mengambil gambar dari tentara Inggris selama Perang Crimean. Dia mengembangkan plat-plat dalam perjalanan kamar gelapnya – yang dikonversi gerbong. Tahun 1888, George Eastman mengembangkan prinsip kerja kamera obscura ciptaan al-Hitham dengan baik sekali. Eastman menciptakan kamera kodak. Sejak itulah, kamera terus berubah mengikuti perkembangan teknologi.

Sebuah versi kamera obscura digunakan dalam Perang Dunia I untuk melihat pesawat terbang dan pengukuran kinerja. Pada Perang Dunia II kamera obscura juga digunakan untuk memeriksa keakuratan navigasi perangkat radio. Begitulah penciptaan kamera obscura yang dicapai al-Haitham mampu mengubah peradaban dunia.

Peradaban dunia modern tentu sangat berutang budi kepada ahli fisika Muslim yang lahir di Kota Basrah, Irak. Al-Haitham selama hidupnya telah menulis lebih dari 200 karya ilmiah. Semua didedikasikannya untuk kemajuan peradaban manusia. Sayangnya, umat Muslim lebih terpesona pada pencapaian teknologi Barat, sehingga kurang menghargai dan mengapresiasi pencapaian ilmuwan Muslim di era kejayaan Islam.

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan GRATIS via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di CariManfaat.com

No comments

Figur Muhammad SAW di Mata Tokoh Dunia



Mahatma Gandhi

“Pernah saya bertanya-tanya siapakah tokoh yang paling mempengaruhi manusia… Saya lebih dari yakin bahwa bukan pedanglah yang memberikan kebesaran pada Islam pada masanya. Tapi ia datang dari kesederhanaan, kebersahajaan, kehati-hatian Muhammad; serta pengabdian luar biasa kepada teman dan pengikutnya, tekadnya, keberaniannya, serta keyakinannya pada Tuhan dan tugasnya. Semua ini (dan bukan pedang ) menyingkirkan segala halangan. Ketika saya menutup halaman terakhir volume 2 (biografi Muhammad), saya sedih karena tiada lagi cerita yang tersisa dari hidupnya yang agung.


Sir George Bernard Shaw

“Jika ada agama yang berpeluang menguasai Inggris bahkan Eropa - beberapa ratus tahun dari sekarang, Islam-lah agama tersebut.”

Saya senantiasa menghormati agama Muhammad karena potensi yang dimilikinya. Ini adalah satu-satunya agama yang bagi saya memiliki kemampuan menyatukan dan merubah peradaban. Saya sudah mempelajari Muhammad sesosok pribadi agung yang jauh dari kesan seorang anti-kristus, dia harus dipanggil ’sang penyelamat kemanusiaan”

“Saya yakin, apabila orang semacam Muhammad memegang kekuasaan tunggal di dunia modern ini, dia akan berhasil mengatasi segala permasalahan sedemikian hingga membawa kedamaian dan kebahagiaan yang dibutuhkan dunia: Ramalanku, keyakinan yang dibawanya akan diterima Eropa di masa datang dan memang ia telah mulai diterima Eropa saat ini.

“Dia adalah manusia teragung yang pernah menginjakkan kakinya di bumi ini. Dia membawa sebuah agama, mendirikan sebuah bangsa, meletakkan dasar-dasar moral, memulai sekian banyak gerakan pembaruan sosial dan politik, mendirikan sebuah masyarakat yang kuat dan dinamis untuk melaksanakan dan mewakili seluruh ajarannya, dan ia juga telah merevolusi pikiran serta perilaku manusia untuk seluruh masa yang akan datang.

Dia adalah Muhammad (SAW). Dia lahir di Arab tahun 570 masehi, memulai misi mengajarkan agama kebenaran, Islam (penyerahan diri pada Tuhan) pada usia 40 dan meninggalkan dunia ini pada usia 63. Sepanjang masa kenabiannya yang pendek (23 tahun) dia telah merubah Jazirah Arab dari paganisme dan pemuja makhluk menjadi para pemuja Tuhan yang Esa, dari peperangan dan perpecahan antar suku menjadi bangsa yang bersatu, dari kaum pemabuk dan pengacau menjadi kaum pemikir dan penyabar, dari kaum tak berhukum dan anarkis menjadi kaum yang teratur, dari kebobrokan ke keagungan moral. Sejarah manusia tidak pernah mengenal tranformasi sebuah masyarakat atau tempat sedahsyat ini bayangkan ini terjadi dalam kurun waktu hanya sedikit di atas DUA DEKADE.”


MICHAEL H. HART

Pilihan saya untuk menempatkan Muhammad pada urutan teratas mungkin mengejutkan semua pihak, tapi dialah satu-satunya orang yang sukses baik dalam tataran sekular maupun agama. (hal. 33). Lamar tine, seorang sejarawan terkemuka menyatakan bahwa: “Jika keagungan sebuah tujuan, kecilnya fasilitas yang diberikan untuk mencapai tujuan tersebut, serta menakjubkannya hasil yang dicapai menjadi tolok ukur kejeniusan seorang manusia; siapakah yang berani membandingkan tokoh hebat manapun dalam sejarah modern dengan Muhammad? Tokoh-tokoh itu membangun pasukan, hukum dan kerajaan saja. Mereka hanyalah menciptakan kekuatan-kekuatan material yang hancur bahkan di depan mata mereka sendiri.

Muhammad bergerak tidak hanya dengan tentara, hukum, kerajaan, rakyat dan dinasti, tapi jutaan manusia di dua per tiga wilayah dunia saat itu; lebih dari itu, ia telah m erubah altar-altar pemujaan, sesembahan, agama, pikiran, kepercayaan serta jiwa… Kesabarannya dalam kemenangan dan ambisinya yang dipersembahkan untuk satu tujuan tanpa sama sekali berhasrat membangun kekuasaan, sembahyang-sembahyangnya, dialognya dengan Tuhan, kematiannnya dan kemenangan-kemenangan (umatnya) setelah kematiannya; semuanya membawa keyakinan umatnya hingga ia memiliki kekuatan untuk mengembalikan sebuah dogma. Dogma yang mengajarkan ketunggalan dan kegaiban (immateriality) Tuhan yang mengajarkan siapa sesungguhnya Tuhan. Dia singkirkan tuhan palsu dengan kekuatan dan mengenalkan tuhan yang sesungguhnya dengan kebijakan. Seorang filsuf yang juga seorang orator, apostle (hawariyyun, 12 orang pengikut Yesus-pen.), prajurit, ahli hukum, penakluk ide, pengembali dogma-dogma rasional dari sebuah ajaran tanpa pengidolaan, pendiri 20 kerajaan di bumi dan satu kerajaan spiritual, ialah Muhammad. Dari semua standar bagaimana kehebatan seorang manusia diukur, mungkin kita patut bertanya: adakah orang yang lebih agung dari dia?”

Lamar tine, HISTOIRE DE LA TURQUIE,

“Dunia telah menyaksikan banyak pribadi-pribadi agung. Namun, dari orang orang tersebut adalah orang yang sukses pada satu atau dua bidang saja misalnya agama atau militer. Hidup dan ajaran orang-orang ini seringkali terselimuti kabut waktu dan zaman. Begitu banyak spekulasi tentang waktu dan tempat lahir mereka, cara dan gaya hidup mereka, sifat dan detail ajaran mereka, serta tingkat dan ukuran kesuksesan mereka sehingga sulit bagi manusia untuk merekonstruksi ajaran dan hidup tokoh-tokoh ini.

Tidak demikian dengan orang ini. Muhammad (SAW) telah begitu tinggi menggapai dalam berbagai bidang pikir dan perilaku manusia dalam sebuah episode cemerlang sejarah manusia. Setiap detil dari kehidupan pribadi dan ucapan-ucapannya telah secara akurat didokumentasikan dan dijaga dengan teliti sampai saat ini. Keaslian ajarannya begitu terjaga, tidak saja oleh karena penelusuran yang dilakukan para pengikut setianya tapi juga oleh para penentangnya. Muhammad adalah seorang agamawan, reformis sosial, teladan moral, administrator massa, sahabat setia, teman yang menyenangkan, suami yang penuh kasih dan seorang ayah yang penyayang - semua menjadi satu.

Tiada lagi manusia dalam sejarah melebihi atau bahkan menyamainya dalam setiap aspek kehidupan tersebut -hanya dengan kepribadian seperti dia-lah keagungan seperti ini dapat diraih.”

K. S. RAMAKRISHNA RAO,

Kepribadian Muhammad, hhmm sangat sulit untuk menggambarkannya dengan tepat. Saya pun hanya bisa menangkap sekilas saja: betapa ia adalah lukisan yang indah. Anda bisa lihat Muhammad s ang Nabi, Muhammad sang ****ang, Muhammad sang pengusaha, Muhammad sang negarawan, Muhammad sang orator ulung, Muhammad sang pembaharu, Muhammad sang pelindung anak yatim-piatu,

Muhammad sang pelindung hamba sahaya, Muhammad sang pembela hak wanita, Muhammad sang hakim, Muhamad sang pemuka agama. Dalam setiap perannya tadi, ia adalah seorang pahlawan.

Saat ini, 14 abad kemudian, kehidupan dan ajaran Muhammad tetap selamat, tiada yang hilang atau berubah sedikit pun. Ajaran yang menawarkan secercah harapan abadi tentang obat atas segala penyakit kemanusiaan yang ada dan telah ada sejak masa hidupnya. Ini bukanlah klaim seorang pengikutnya tapi juga sebuah simpulan tak terelakkan dari sebuah analisis sejarah yang kritis dan tidak bias.

PROF. (SNOUCK) HURGRONJE

Liga bangsa-bangsa yang didirikan Nabi umat Islam telah meletakkan dasar-dasar persatuan internasional dan persaudaraan manusia di atas pondasi yang universal yang menerangi bagi bangsa lain. Buktinya, sampai saat ini tiada satu bangsa pun di dunia yang mampu menyamai Islam dalam capaiannya mewujudkan ide persatuan bangsa-bangsa.

Dunia telah banyak mengenal konsep ketuhanan, telah banyak individu yang hidup dan misinya lenyap menjadi legenda. Sejarah menunjukkan tiada satu pun legenda ini yang menyamai bahkan sebagian dari apa yang Muhammad capai. Seluruh jiwa raganya ia curahkan untuk satu tujuan: menyatukan manusia dalam pengabdian kapada Tuhan dalam aturan-aturan ketinggian moral. Muhammad atau pengikutnya tidak pernah dalam sejarah menyatakan bahwa ia adalah putra Tuhan atau reinkarnasi Tuhan atau seorang jelmaan Tuhan dia selalu sejak dahulu sampai saat ini menganggap dirinya dan dianggap oleh pengikutnya hanyalah sebagai seorang pesuruh yang dipilih Tuhan.

THOMAS CARLYLE in his HEROES AND HEROWORSHIP

Betapa menakjubkan seorang manusia sendirian dapat mengubah suku-suku yang saling berperang dan kaum nomaden (Baduy) menjadi sebuah bangsa yang paling maju dan paling berperadaban hanya dalam waktu kurang dari dua dekade.

“Kebohongan yang dipropagandakan kaum Barat yang diselimutkan kepada orang ini (Muhammad) hanyalah mempermalukan diri kita sendiri. “Sesosok jiwa besar yang tenang, seorang yang mau tidak mau harus dijunjung tinggi. Dia diciptakan untuk menerangi dunia, begitulah perintah Sang Pencipta Dunia.

EDWARD GIBBON and SIMON OCKLEY

Saya percaya bahwa Tuhan adalah tunggal dan Muhammad adalah pesuruh-Nya adalah pengakuan kebenaran Islam yang simpel dan seragam. Tuhan tidak pernah dihinakan dengan pujaan-pujaan kemakhlukan; penghormatan terhadap Sang Nabi tidak pernah berubah menjadi pengkultusan berlebihan; dan prinsip-prinsip hidupnya telah memberinya penghormatan dari pengikutnya dalam batas-batas akal dan agama (HISTORY OF THE SARACEN EMPIRES, London, 1870, p. 54).

Muhammad tidak lebih dari seorang manusia biasa. Tapi ia adalah manusia dengan tugas mulia untuk menyatukan manusia dalam pengabdian terhadap satu dan hanya satu Tuhan serta untuk mengajarkan hidup yang jujur dan lurus sesuai perintah Tuhan. Dia selalu menggambarkan dirinya sebagai ‘hamba dan pesuruh Tuhan dan demikianlah juga setiap tindakannya.

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan GRATIS via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di CariManfaat.com

No comments

Ziryab, Penemu Yang Terlupakan



Rasanya nama Ziryab belum banyak yang tahu, meskipun sesungguhnya ia termasuk penemu (inventor) dan seniman hebat sekaliber Leonardo da Vinci.

Ziryab (789-857 AD) atau dengan nama arab Abu I-Hasan 'Ali Ibn Nafi' adalah seorang polymath dari Persia (polymath: seseorang yang pengetahuannya tidak terbatas hanya pada satu bidang), seorang mantan budak yang kemudian menjadi ahli di berbagai bidang sebagai musisi, penyanyi, perancang busana, penemu, botanis, dan lainnya.

Banyak hal yang lazim kita lakukan di era modern sekarang bersumber dari "revolusi" yang dilakukan Zyrab. Diantaranya:

1. Memperkenalkan cara makan dalam sajian resmi : soup (atau appetizer), hidangan utama (main course), lalu pudding (dessert).

2. Gelas kristal? Itu hasil penemuan Zyrab. Sebelumnya orang di zaman tersebut banyak memakai gelas dari logam atau tembikar.

3. Di dunia fashion, Zyrab membawa perubahan gaya pakaian. Saat musim dingin datang, Zyrab merancang pakaian berbahan katun hangat dan wool. Intinya, Zyrab membuat orang mengenakan pakaian sesuai musim.

4. Gaya rambut pendek bagi pria dan mencukur jenggot (shaving) dipopulerkan oleh Zyrab.

5. Dia yang mempromosikan mandi dua kali sehari.

6. Menemukan pasta gigi seperti yang kita pakai sekarang.

7. Menemukan deodoran. 

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan GRATIS via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di CariManfaat.com

No comments

Terusan Suez Adalah Karya Umar bin Khattab


Banyak yang belum tahu , bahwa ternyata Terusan Suez ternyata adalah sebuah karya agung berdasar ide dan gagasan cemerlang sekaligus membuktikan kejeniusan Amirul Mukminin Umar Bin Khaththab raddiyallahu’anhu. Ide jenius beliau menghubungkan Laut Merah dan Laut Putih Tengah karena adanya berbagai potensi domestik yang sudah dikenal pada zamannya. Juga kejeniusan beliau patut kita berbangga karenanya, adalah kemampuan beliau mewujudkan proyek tersebut dalam waktu relatif singkat sehingga terusan tersebut bisa dilalui oleh kapal-kapal.

Di musim dingin tahun 641-642 M, Amru bin Ash ra. membuka terusan yang menghubungkan antara laut Qalzim dengan Laut Romawi atau di posisinya sekarang, dikenal dengan nama Terusan Amirul Mukminin.

Al Qadha’i bercerita, Umar bin Khattab ra. menginstruksikan pada Amru bin Ash ra. pada saat musim paceklik untuk mengeruk teluk yang berada di samping Fusthath kemudian dialiri air sungai Nil hingga laut Qalzim.

Belum setahun, teluk inipun sudah bisa dilalui oleh kapal dan digunakan untuk mengangkut logistik ke Mekkah dan Madinah. Teluk ini juga dimanfaatkan penduduk dua tanah suci itu hingga disebut Teluk Amirul Mukminin.

Al Kindi bertutur bahwa teluk tsb dikeruk pada tahun 32 H dan selesai hanya dalam waktu 6 bulan. Kapal-kapal sudah bisa lalu lalang menyusuri teluk hingga sampai di Hijaz bulan ke tujuhnya.
Terusan ini sangat membantu penduduk Mesir hingga era Khalifah Abu Ja’far Al Manshur , yang dibendungnya untuk memutus aliran dan dukungan Mesir terhadap perlawanan Muhammad bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib di Hijaz.

Sebagian sejarah juga menyebut, bahwa Amru bin Ash telah memikirkan untuk menghubungkan 2 laut putih dan Merah , namun tampaknya yang dimaksud adalah terusan lain, yang membelah antara Selat Timsah dengan Barzah, antara Mesir dan Sinai hingga Laut Tengah. Tapi rencana ini dibatalkan karena alasan pertimbangan militer yang ada pada zaman itu.

Pada masa Khilafah Utsmaniyyah, teluk ini dibersihkan tiap tahun. Musim dingin, teluk ini biasanya ditutup karena dikeruk dan dibersihkan seperti perayaan. (biasanya bulan Agustus). Lumpur yang dikeruk lalu diangkat dan ditimbun di samping kanan-kiri aliran teluk. dan ini sungguh menarik perhatian penduduk setempat.

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan GRATIS via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di CariManfaat.com

No comments

Wednesday, January 16, 2013

WR. Soepratman Seorang Ahmadiyah?

Dalam sebuah sumber yang tersebar di dunia maya menyebutkan bahwa WR. Soepratman adalah seorang pengikut Ahmadiyah. Tidak ada yang tidak mengenal tokoh legendaris ini. Para nasionalis bangsa Indonesia sangat hafal lagu yang diciptakannya.

Tiap hari pelajar sekolah bahkan wajib menyanyikannya dalam upacara sekolah, sambil membentangkan tangan ke kening menghormat sebuah kain merah putih yang diderek petugas. Tidak hanya itu anggota DPR pun kerap menyanyikan lagu bernuansa nasionalisme ini ketika hendak memulai rapat. Mau itu dari partai nasionalis, sosialis, atau partai Islam sekalipun.

Bahkan Kelurahan Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, warganya yang hendak membuat KTP diharuskan untuk menyanyikan lagi kehormatan bagi bangsa Indonesia ini demi mengobarkan semangat patriotisme kepada Negara dan Pancasila.

WR. Soepratman memang selama ini dikenal sebagai pencipta lagu Indonesia raya. Namanya sangat tersohor karena lagu tersebut dijadikan lagu wajib bagi rakyat Indonesia. Hari kelahiran Soepratman sendiri pada tanggal 9 Maret, oleh Megawati saat menjadi presiden RI, diresmikan sebagai Hari Musik Nasional.

Isu seputar darah Ahmadiyah di tubuh Pahlawan Nasional tersebut diamini oleh Amir Nasional Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI), Abdul Basith. Ia mengatakan, selama berkembang di Indonesia sejak tahun 1953, JAI telah aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan termasuk dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Seperti dikutip inilah.com, 16/2, Salah satu pengurus besar Jemaah Ahmadiyah tersebut kemudian melanjutkan bahwa bangsa Indonesia berhutang besar kepada Ahmadiyah, karena, Lagu Kebangsaan Indonesia Raya ternyata diciptakan oleh Jamaah Ahmadiyah.

Siapakah WR. Soepratman

Ia bernama lengkap Wage Rudolf Supratman. Lahir di Jatinegara, Batavia, 9 Maret 1903 dan meninggal di Surabaya, Jawa Timur, 17 Agustus 1938 pada umur yang sangat muda, 35 tahun.

Seperti dikutip dari Wikipedia, Ayahnya bernama Senen, sersan di Batalyon VIII. Saudara Soepratman berjumlah enam, laki satu, lainnya perempuan. Salah satunya bernama Roekijem. Pada tahun 1914, Soepratman ikut Roekijem ke Makassar. Di sana ia disekolahkan dan dibiayai oleh suami Roekijem yang bernama Willem van Eldik.

Soepratman lalu belajar bahasa Belanda di sekolah malam selama tiga tahun, kemudian melanjutkannya ke Normaalschool di Makassar sampai selesai. Ketika berumur 20 tahun, lalu dijadikan guru di Sekolah Angka 2. Dua tahun selanjutnya ia mendapat ijazah Klein Ambtenaar.

Beberapa waktu lamanya ia bekerja pada sebuah perusahaan dagang. Dari Makassar, ia pindah ke Bandung dan bekerja sebagai wartawan di harian Kaoem Moeda dan Kaoem Kita. Pekerjaan itu tetap dilakukannya sewaktu sudah tinggal di Jakarta. Dalam pada itu ia mulai tertarik kepada pergerakan nasional dan banyak bergaul dengan tokoh-tokoh pergerakan. Rasa tidak senang terhadap penjajahan Belanda mulai tumbuh dan akhirnya dituangkan dalam buku Perawan Desa. Buku itu disita dan dilarang beredar oleh pemerintah Belanda.

Bagaimana Sikap Islam

Islam sendiri sebenarnya tidak mengenal lagu kebangsaan sebuah negara. Bagi Islam, status kewarganegaraan seorang mukmin adalah akidahnya. Akidah dan tauhid-lah yang paling tinggi mengalahkan seruan bendera nasionalisme apapun.

Kalimat syahadat adalah bukti eksistensi terluhur seorang muslim kepada RabbNya. Ia menghujam kepada lubuk sanubari. Memupuskan tali temali yang mengikat antara satu jenis ras manusia dengan yang lainnya. Hingga Asy-Syahid Sayyid Quthb pernah mengatakan:

”Kewarganegaraan” yang dikehendaki oleh Islam untuk manusia adalah kewarganegaraan aqidah, di mana sama seorang Arab dengan seorang Romawi, seorang Persi, setiap jenis dan warna di bawah panji-panji Allah. Dan inilah jalannya.

Oleh karena itu, tidak ada tolak ukur Iman seorang muslim diukur dari apakah ia faham lagu kebangsaan atau tidak. Apakah ia hafal bait per bait senandung lagu nasional atau tidak. Atau apakah ia taat menyanyikan lagu penyeruan pada suatu bangsa tertentu sebelum rapat atau tidak. Bunyi Ayat Qur’an dan Hadislah sebuah manifesto suara terhebat yang mampu menggetarkan Iman seorang yang berikrar: bahwa Allah adalah ilah satu-satunya yang patut disembah!

Karena itu kita bisa melihat bagaimana pejuang muslim saat memperjuangkan Indonesia dalam mengusir kafir Belanda dibakar dengan sebuah semangat dengan seruan tertinggi di muka bumi, yakni Allahu Akbar.

Inilah pula mengapa Abu ’Ala al-Maududi (1903), menolak ide nasionalisme karena hanya memecah belah umat Islam. Membuat Turki (Dinasti Utsmaniyah) dan Mesir berseteru.

“Sungguh, Allah telah menghilangkan dari dirimu kebanggaan dan kesombongan pada masa jahiliyyah dan pemujaan terhadap nenek moyang. Saat ini ada dua macam manusia, yakni orang-orang yang percaya yang selalu menyadari dirinya, dan orang-orang yang melanggar yang senantiasa berbuat kesalahan. Kamu semua adalah anak cucu Adam dan Adam terbuat dari tanah. Manusia harus meninggalkan kebanggaan terhadap BANGSA mereka karena hal itu adalah bahan bakar api neraka. Jika mereka tidak menghentikan semua itu, maka Allah akan menganggap mereka lebih rendah daripada cacing tanah yang menyusupkan dirinya sendiri ke dalam limbah kotoran.” (HR. Abu Dawud dan Thabarani). 
 
-arrahmah-

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan GRATIS via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di CariManfaat.com

No comments

Monday, January 14, 2013

Kisah seorang Yahudi yang mengislamkan jutaan orang

Di suatu tempat di Perancis sekitar lima puluh tahun yang lalu, ada seorang berkebangsaan Turki berumur 50 tahun bernama Ibrahim, ia adalah orang tua yang menjual makanan di sebuah toko makanan. Toko tersebut terletak di sebuah apartemen dimana salah satu penghuninya adalah keluarga Yahudi yang memiliki seorang anak bernama "Jad" berumur 7 tahun.

Jad si anak Yahudi Hampir setiap hari mendatangi toko tempat dimana Ibrahim bekerja untuk membeli kebutuhan rumah, setiap kali hendak keluar dari toko –dan Ibrahim dianggapnya lengah– Jad selalu mengambil sepotong cokelat milik Ibrahim tanpa seizinnya.

Pada suatu hari usai belanja, Jad lupa tidak mengambil cokelat ketika mau keluar, kemudian tiba-tiba Ibrahim memanggilnya dan memberitahu kalau ia lupa mengambil sepotong cokelat sebagaimana kebiasaannya. Jad kaget, karena ia mengira bahwa Ibrahim tidak mengetahui apa yang ia lakukan selama ini. Ia pun segera meminta maaf dan takut jika saja Ibrahim melaporkan perbuatannya tersebut kepada orangtuanya.

Ibrahim pun menjawab: "Tidak apa, yang penting kamu berjanji untuk tidak mengambil sesuatu tanpa izin, dan setiap saat kamu mau keluar dari sini, ambillah sepotong cokelat, itu adalah milikmu!" Jad pun menyetujuinya dengan penuh kegirangan.

Waktu berlalu, tahun pun berganti dan Ibrahim yang muslim kini menjadi layaknya seorang ayah dan teman akrab bagi Jad si anak Yahudi.

Sudah menjadi kebiasaan Jad saat menghadapi masalah, ia selalu datang dan berkonsultasi kepada Ibrahim. Dan setiap kali Jad selesai bercerita, Ibrahim selalu mengambil sebuah buku dari laci, memberikannya kepada Jad dan kemudian menyuruhnya untuk membukanya secara acak. Setelah Jad membukanya, kemudian Ibrahim membaca dua lembar darinya, menutupnya dan mulai memberikan nasehat dan solusi dari permasalahan Jad.

Beberapa tahun pun berlalu dan begitulah hari-hari yang dilalui Jad bersama Ibrahim, seorang Muslim Turki yang tua dan tidak berpendidikan tinggi.

14 tahun berlalu, kini Jad telah menjadi seorang pemuda gagah dan berumur 24 tahun, sedangkan Ibrahim saat itu berumur 67 tahun.

Ibrahim pun akhirnya meninggal, namun sebelum wafat ia telah menyimpan sebuah kotak yang dititipkan kepada anak-anaknya dimana di dalam kotak tersebut ia letakkan sebuah buku yang selalu ia baca setiap kali Jad berkonsultasi kepadanya. Ibrahim berwasiat agar anak-anaknya nanti memberikan buku tersebut sebagai hadiah untuk Jad, seorang pemuda Yahudi.

Jad baru mengetahui wafatnya Ibrahim ketika putranya menyampaikan wasiat untuk memberikan sebuah kotak, Jad pun merasa tergoncang dan sangat bersedih dengan berita tersebut, karena Ibrahim lah yang selama ini memberikan solusi dari semua permasalahannya,  dan Ibrahim lah satu-satunya teman sejati baginya.

Hari-haripun berlalu, Setiap kali dirundung masalah, Jad selalu teringat Ibrahim. Kini ia hanya meninggalkan sebuah kotak. Kotak yang selalu ia buka, di dalamnya tersimpan sebuah buku yang dulu selalu dibaca Ibrahim setiap kali ia mendatanginya.

Jad lalu mencoba membuka lembaran-lembaran buku itu, akan tetapi kitab itu berisikan tulisan berbahasa Arab sedangkan ia tidak bisa membacanya. Kemudian ia pergi ke salah seorang temannya yang berkebangsaan Tunisia dan memintanya untuk membacakan dua lembar dari kitab tersebut. Persis sebagaimana kebiasaan Ibrahim dahulu yang selalu memintanya membuka lembaran kitab itu dengan acak saat ia datang berkonsultasi.

Teman Tunisia tersebut kemudian membacakan dan menerangkan makna dari dua lembar yang telah ia tunjukkan. Dan ternyata, apa yang dibaca oleh temannya itu, mengena persis ke dalam permasalahan yang dialami Jad kala itu. Lalu Jad bercerita mengenai permasalahan yang tengah menimpanya, Kemudian teman Tunisianya itu memberikan solusi kepadanya sesuai apa yang ia baca dari kitab tersebut.

Jad pun terhenyak kaget, kemudian dengan penuh rasa penasaran ini bertanya, "Buku apa ini !?"
Ia menjawab : "Ini adalah Al-Qur'an, kitab sucinya orang Islam!"
Jad sedikit tak percaya, sekaligus merasa takjub,
Jad lalu kembali bertanya: "Bagaimana caranya menjadi seorang muslim?"
Temannya menjawab : "Mengucapkan syahadat dan mengikuti syariat!"
Setelah itu, dan tanpa ada rasa ragu, Jad lalu mengucapkan Syahadat, ia pun kini memeluk agama Islam!

Jadullah seorang Muslim.

Kini Jad sudah menjadi seorang muslim, kemudian ia mengganti namanya menjadi Jadullah Al-Qur'ani sebagai rasa takdzim atas kitab Al-Qur'an yang begitu istimewa dan mampu menjawab seluruh problema hidupnya selama ini. Dan sejak saat itulah ia memutuskan akan menghabiskan sisa hidupnya untuk mengabdi menyebarkan ajaran Al-Qur'an.

Mulailah Jadullah mempelajari Al-Qur'an serta memahami isinya, dilanjutkan dengan berdakwah di Eropa hingga berhasil mengislamkan enam ribu Yahudi dan Nasrani.
Suatu hari, Jadullah membuka lembaran-lembaran Al-Qur'an hadiah dari Ibrahim itu. Tiba-tiba ia mendapati sebuah lembaran bergambarkan peta dunia. Pada saat matanya tertuju pada gambar benua afrika, nampak di atasnya tertera tanda tangan Ibrahim dan dibawah tanda tangan itu tertuliskan ayat :

((اُدْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ...!!))

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik!!..." (QS. An-Nahl; 125)

Iapun yakin bahwa ini adalah wasiat dari Ibrahim dan ia memutuskan untuk melaksanakannya.

Beberapa waktu kemudian Jadullah meninggalkan Eropa dan pergi berdakwah ke negara-negara Afrika yang diantaranya adalah Kenya, Sudan bagian selatan (yang mayoritas penduduknya adalah Nasrani), Uganda serta negara-negara sekitarnya. Jadullah berhasil mengislamkan lebih dari 6.000.000 (enam juta) orang dari suku Zolo, ini baru satu suku, belum dengan suku-suku lainnya.

Akhir Hayat Jadullah

Jadullah Al-Qur'ani, seorang muslim sejati, da'i hakiki, menghabiskan umur 30 tahun sejak keislamannya untuk berdakwah di negara-negara Afrika yang gersang dan berhasil mengislamkan jutaan orang.

Jadullah wafat pada tahun 2003 yang sebelumnya sempat sakit. Kala itu beliau berumur 45 tahun, beliau wafat dalam masa-masa berdakwah.

Kisah pun belum selesai

Ibu Jadullah Al-Qur'ani adalah seorang wanita Yahudi yang fanatik, ia adalah wanita berpendidikan dan dosen di salah satu perguruan tinggi. Ibunya baru memeluk Islam pada tahun 2005, dua tahun sepeninggal Jadullah yaitu saat berumur 70 tahun.

Sang ibu bercerita bahwa –saat putranya masih hidup– ia menghabiskan waktu selama 30 tahun berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan putranya agar kembali menjadi Yahudi dengan berbagai macam cara, dengan segenap pengalaman, kemapanan ilmu dan kemampuannya, akan tetapi ia tidak dapat mempengaruhi putranya untuk kembali menjadi Yahudi. Sedangkan Ibrahim, seorang Muslim tua yang tidak berpendidikan tinggi, mampu melunakkan hatinya untuk memeluk Islam, hal ini tidak lain karena Islamlah satu-satunya agama yang benar.

Kemudian yang menjadi pertanyaan: "Mengapa Jad si anak Yahudi memeluk Islam?"

Jadullah Al-Qur'ani bercerita bahwa Ibrahim yang ia kenal selama 17 tahun tidak pernah memanggilnya dengan kata-kata: "Hai orang kafir!" atau "Hai Yahudi!" bahkan Ibrahim tidak pernah untuk sekedar berucap: "Masuklah agama islam!"

Bayangkan, selama 17 tahun Ibrahim tidak pernah sekalipun mengajarinya tentang agama, tentang Islam ataupun tentang Yahudi. Seorang tua muslim sederhana itu tak pernah mengajaknya diskusi masalah agama. Akan tetapi ia tahu bagaimana menuntun hati seorang anak kecil agar terikat dengan akhlak Al-Qur'an.

Kemudian dari kesaksian DR. Shafwat Hijazi (salah seorang dai kondang Mesir) yang suatu saat pernah mengikuti sebuah seminar di London dalam membahas problematika Darfur serta solusi penanganan dari kristenisasi, beliau berjumpa dengan salah satu pimpinan suku Zolo. Saat ditanya apakah ia memeluk Islam melalui Jadullah Al-Qur'ani?, ia menjawab; tidak! namun ia memeluk Islam melalui orang yang diislamkan oleh Jadullah Al-Qur'ani.

Subhanallah, akan ada berapa banyak lagi orang yang akan masuk Islam melalui orang-orang yang diislamkan oleh Jadullah Al-Qur'ani. Dan Jadullah Al-Qur'ani sendiri memeluk Islam melalui tangan seorang muslim tua berkebangsaan Turki yang tidak berpendidikan tinggi, namun memiliki akhlak yang jauh dan jauh lebih luhur dan suci.

Begitulah hikayat tentang Jadullah Al-Qur'ani, kisah ini merupakan kisah nyata yang penulis dapatkan kemudian penulis terjemahkan dari catatan Almarhum Syeikh Imad Iffat yang dijuluki sebagai "Syaikh Kaum Revolusioner Mesir". Beliau adalah seorang ulama Al-Azhar dan anggota Lembaga Fatwa Mesir yang ditembak syahid dalam sebuah insiden di Kairo pada hari Jumat, 16 Desember 2011 silam.

Kisah nyata ini layak untuk kita renungi bersama di masa-masa penuh fitnah seperti ini. Di saat banyak orang yang sudah tidak mengindahkan lagi cara dakwah Qur'ani. Mudah mengkafirkan, fasih mencaci, mengklaim sesat, menyatakan bid'ah, melaknat, memfitnah, padahal mereka adalah sesama muslim.

Dulu da'i-da'i kita telah berjuang mati-matian menyebarkan Tauhid dan mengislamkan orang-orang kafir, namun kenapa sekarang orang yang sudah Islam malah justru dikafir-kafirkan dan dituduh syirik? Bukankah kita hanya diwajibkan menghukumi sesuatu dari yang tampak saja? Sedangkan masalah batin biarkan Allah yang menghukumi nanti. Kita sama sekali tidak diperintahkan untuk membelah dada setiap manusia agar mengetahui kadar iman yang dimiliki setiap orang.

Mari kita renungi kembali surat Thaha ayat 44 yaitu Perintah Allah swt. kepada Nabi Musa dan Harun –'alaihimassalam– saat mereka akan pergi mendakwahi fir'aun. Allah berfirman,

((فَقُولاَ لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى))

"Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut."

Bayangkan, fir'aun yang jelas-jelas kafir laknatullah, namun saat dakwah dengan orang seperti ia pun harus tetap dengan kata-kata yang lemah lembut. Lalu apakah kita yang hidup di dunia sekarang ini ada yang lebih Islam dari Nabi Musa dan Nabi Harun? Atau adakah orang yang saat ini lebih kafir dari fir'aun sehingga Al-Qur'an pun merekam kekafirannya hingga kini? Lantas alasan apa bagi kita untuk tidak menggunakan dahwah dengan metode Al-Qur'an? Yaitu dengan Hikmah, Nasehat yang baik, dan Diskusi menggunakan argumen yang kuat namun tetap sopan dan santun?

Maka dalam dakwah yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana cara kita agar mudah menyampaikan kebenaran Islam ini. Oleh karenanya, jika sekarang kita dapati ada orang yang kafir, bisa jadi di akhir hayatnya Allah akan memberi hidayah kepadanya sehingga ia masuk Islam. Bukankah Umar bin Khattab dulu juga pernah memusuhi Rasulullah? Namun Allah berkehendak lain, sehingga Umar pun mendapat hidayah dan akhirnya memeluk Islam. Lalu jika sekarang ada orang muslim, bisa jadi di akhir hayatnya Allah mencabut hidayah darinya sehingga ia mati dalam keadaan kafir. Na'udzubillah tsumma Na'udzubillahi min Dzalik.

Karena sesungguhnya dosa pertama yang dilakukan iblis adalah sombong dan angkuh serta merasa diri sendiri paling suci sehingga tak mau menerima kebenaran Allah dengan sujud hormat kepada nabi Adam –'alaihissalam–. Oleh karena itu, bisa jadi Allah mencabut hidayah dari seorang muslim yang tinggi hati lalu memberikannya kepada seorang kafir yang rendah hati. Segalanya tiada yang mustahil bagi Allah!

Marilah kita pertahankan akidah Islam yang telah kita peluk ini, dan jangan pernah mencibir ataupun "menggerogoti" akidah orang lain yang juga telah memeluk Islam serta bertauhid. Kita adalah saudara seislam seagama. Saling mengingatkan adalah baik, saling melindungi akidah sesama muslim adalah baik. Marilah kita senantiasa berjuang bahu-membahu demi perkara yang baik-baik saja.

Wallahu Ta'ala A'la Wa A'lam Bis-Shawab. 

Penulis: Mustamid, seorang mahasiswa Program Licence Universitas Al-Azhar Kairo Konsentrasi Hukum Islam.

Foto: Muslim Afsel

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan GRATIS via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di CariManfaat.com

No comments